JAKARTA - Membangun fondasi ekonomi yang kokoh di tingkat keluarga dan birokrasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga ketahanan bangsa. Di tengah dinamika ekonomi global, pemahaman mendalam mengenai tata kelola keuangan menjadi instrumen krusial bagi setiap individu, khususnya kaum perempuan. Penguatan literasi finansial bukan sekadar upaya memahami instrumen investasi, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan keluarga, masyarakat, dan bangsa secara berkelanjutan. Pengelolaan kekayaan juga bukan sekadar urusan hari ini, melainkan tanggung jawab lintas generasi yang dapat diwariskan.
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan bahwa agenda ini memiliki relevansi kuat dengan peran strategis perempuan sebagai pilar ekonomi. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini mengatakan bahwa penguatan tersebut juga perlu dilakukan untuk kaum perempuan. Pasalnya, perempuan memiliki peran strategis dalam penguatan ekonomi keluarga dan bangsa.
Peran Sentral Perempuan sebagai Pilar Ekonomi Keluarga
Dalam sambutannya sebagai pembicara utama, Menteri Rini menguraikan bahwa posisi perempuan dalam struktur ekonomi sangatlah fundamental. Perempuan memiliki peran strategis sebagai pilar ketahanan ekonomi, penggerak kepemimpinan ekonomi keluarga dan komunitas, serta agen literasi keuangan,” jelasnya saat menjadi Keynote Speaker Edukasi Finansial “Gold As Legacy: Preserving Wealth For Future Generation.
Menteri Rini menyampaikan bahwa pemberdayaan literasi keuangan bagi perempuan harus lebih diperkuat sebagai agenda strategis. Hal ini disebabkan oleh peran sentral perempuan dalam merencanakan pengeluaran dan tabungan keluarga. Lebih dari itu, peran ini memiliki efek domino jangka panjang bagi masa depan generasi mendatang. “Ini tentunya, seorang ibu akan menjadi pendidik yang mempengaruhi perilaku keuangan lintas generasi terutama bagi anak,” ujarnya.
Literasi Keuangan dalam Ekosistem Reformasi Birokrasi
Selain dalam ranah domestik, Menteri Rini juga menarik kaitan antara kecakapan finansial dengan performa aparatur negara. Sementara itu dalam perspektif reformasi birokrasi, literasi keuangan yang kuat merupakan fondasi penting bagi aparatur negara yang berintegritas, adaptif, dan berdaya saing. Ketahanan finansial pribadi diyakini berkontribusi langsung pada pembentukan karakter birokrat yang tidak mudah tergiur oleh praktik-praktik yang melanggar hukum.
Filosofi warisan nilai menjadi inti dari pesan yang disampaikan oleh Menteri PANRB dalam kegiatan tersebut. “Kita meyakini bahwa kekayaan sejati bukan hanya pada apa yang dimiliki, tetapi pada nilai yang diwariskan. True legacy is not wealth alone, but wisdom that endures across generations,” kata Menteri PANRB. Ia menekankan bahwa dalam konteks reformasi birokrasi, kepemimpinan yang visioner dan inklusif menjadi kunci menghadirkan tata kelola pemerintahan yang tangguh dan berdaya saing. Hal ini merupakan fondasi penting bagi pelayanan publik yang stabil, berkelanjutan, dan berpihak yang diwariskan untuk masa depan bangsa.
Kepemimpinan Visioner: Jejak Nilai di Atas Angka
Menteri Rini mengingatkan bahwa setiap kebijakan yang diambil hari ini akan menjadi cermin kepemimpinan di masa depan. “Perlu kita sadari bahwa keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan warisan kepemimpinan ke depan. Karena sejatinya tidak semua keputusan meninggalkan angka, tetapi sebagian justru meninggalkan jejak nilai yang membentuk arah dan kepercayaan jangka panjang,” ujarnya.
Lebih lanjut Menteri Rini menyampaikan bahwa setiap keputusan strategis hari ini bukan hanya menjawab kebutuhan sesaat, melainkan dapat membangun atau meruntuhkan kepercayaan yang menentukan masa depan organisasi. Konsistensi dalam menjaga nilai-nilai luhur akan menjadi bantalan kuat ketika organisasi dihadapkan pada tantangan yang terus berubah seiring bergantinya kepemimpinan.
Ujian Waktu bagi Integritas Pemimpin
Menutup arahannya, Menteri Rini menganalogikan nilai kepemimpinan seperti logam mulia yang tidak pudar oleh zaman. Kepemimpinan sejati pun tidak diukur dari seberapa cepat keputusan diambil, melainkan dari keberanian memilih yang paling berdampak serta keteguhan menolak yang tidak bernilai. “Pada akhirnya seperti emas, nilai kepemimpinan diuji oleh waktu. Bukan oleh momen. Semakin tepat keputusan yang diambil, semakin berharga warisan yang ditinggalkan dari waktu ke waktu,” katanya.
Melalui kegiatan edukasi finansial tersebut, selain mewariskan nilai kepemimpinan, Menteri Rini juga mengajak untuk memperkuat budaya perencanaan keuangan yang transparan, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang. Investasi yang bijak perlu dipahami sebagai strategi menjaga stabilitas nilai sekaligus membangun ketahanan ekonomi keluarga dan bangsa. “Sejalan dengan pepatah hemat pangkal kaya, perencanaan yang matang adalah kunci ketahanan masa depan, dan the best investment is the one that secures the next generation,” tambahnya.