JAKARTA - Krisis regenerasi di sektor pertanian sering kali menjadi momok bagi keberlanjutan ekonomi nasional. Namun, fenomena menarik justru terjadi di subsektor perkebunan sawit, di mana keterlibatan generasi muda mulai menunjukkan tren positif. Agar dilirik anak muda, pemerintah harus fokus pada pembenahan akses lahan, penguatan kelembagaan petani muda yang deliberatif, serta pembangunan ramah lingkungan. Sektor pertanian, termasuk subsektor perkebunan, masih menghadapi krisis regenerasi petani. Namun, minat untuk menjadi petani sawit, terutama untuk meneruskan jejak orangtua yang adalah generasi pertama petani sawit, mulai terdongkrak.
Salah satu representasi nyata dari kebangkitan generasi kedua ini adalah Budhisastrawan (30). Meskipun memiliki latar belakang pendidikan tinggi yang mumpuni, Budhi memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan lulusan universitas sebayanya. Sempat menempuh pendidikan S-1 di dua lokasi, yaitu Universitas Brawijaya Malang dan sebuah universitas di Korea Selatan, Budhi memilih pulang kampung lalu meneruskan pekerjaan sebagai petani sawit di Kampung Kumbara Utama, Kecamatan Kerinci Kanan, Kabupaten Siak, Riau, sejak 2021. ”Sekarang full time sebagai petani sawit,” ujar Budhi ditemui pada Kamis.
Sinergi Kelembagaan dan Peran Strategis Petani Muda
Keputusan Budhi untuk kembali ke tanah kelahiran bukan sekadar romantisme pulang kampung, melainkan sebuah keputusan ekonomi yang matang. Sebagai petani sawit plasma, Budhi kemudian mengolah lahan sawit yang sebelumnya dikelola ayahnya yang seorang transmigran program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans) sejak 1991. Seiring perluasan kebun sawit milik keluarganya, Budhi juga sekaligus menjadi petani sawit swadaya yang mengolah lahan sawit yang dibeli mandiri oleh orangtuanya.
Tak hanya mengelola kebun, Budhi juga mengambil peran kepemimpinan di tingkat lokal. Ditemui di kantor Koperasi Unit Desa (KUD) Jaya Makmur, Budhi sibuk menjalankan tugasnya sebagai sekretaris KUD yang beranggotakan 460 petani. Di KUD tersebut, Budhi terlibat menyokong kesejahteraan para anggota sesama petani sawit. ”Dulu sebelum kerja di KUD, ya setiap hari di kebun, antar buah dari kebun. Saya petani swadaya, jadi kirim panenan sendiri,” tambah Budhi. Hal ini menunjukkan bahwa generasi kedua membawa kapasitas manajerial yang memperkuat ekosistem komoditas yang sudah terbentuk.
Daya Tarik Finansial dan Kemudahan Tata Kelola Modern
Gairah anak muda melirik sawit juga disokong ekosistem komoditas kelapa sawit yang sudah terbentuk sehingga terkoneksi dari hulu hingga hilir. Adanya jaminan serapan hasil panen dari perusahaan mitra menjadi faktor kunci keberhasilan regenerasi ini. Generasi kedua lainnya, Iis Dwi (34), mengakui bahwa aspek ekonomi adalah pendorong utama. Ayahnya yang sudah berusia 65 tahun mengawali jejak dari satu kapling seluas 2 hektar, yang kini berhasil dikembangkan menjadi 11 hektar.
Dwi dan ayahnya tetap setia bermitra dengan Asian Agri yang telah mendampingi petani sejak 1987. ”Karena saya ini tergiur dengan penghasilan, sih, yang paling utama. Penghasilan dari kebun sawit ini, kan, lumayan,” kata Dwi yang merupakan lulusan S-1 hukum. Selain faktor finansial, efisiensi waktu juga menjadi daya tarik bagi anak muda. Berbeda dengan generasi pertama yang harus bekerja fisik setiap hari selama masa perintisan, Dwi kini bisa membagi waktu. Ia bisa bebas bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan karena pekerjaan di perkebunan seperti pemupukan dan pemanenan sudah terjadwal dengan rapi.
Transformasi Kinerja Antargenerasi di Kebun Sawit
Ketua KUD Jaya Makmur, Sudiyono, mencatat adanya perbedaan pola kerja yang signifikan antara generasi awal dan generasi penerus. ”Kinerja generasi satu dan dua ini beda. Kalau generasi satu, dulu seolah-olah itu kan kita pekerja ke kebun itu hampir setiap hari karena itu waktu perintisan dan sampai jadi itu juga butuh penanganan maksimal. Nah, generasi dua ini bisa mengelola kebun dan juga bisa bekerja di luar,” ucap Sudiyono. Fleksibilitas ini membuat profesi petani tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang mengikat dan melelahkan secara fisik.
Kondisi ini sangat kontras dengan pahitnya masa awal transmigrasi di Kampung Kumbara Utama. Saat itu, lebih dari separuh transmigran menyerah dan memilih pulang ke Jawa karena beratnya medan. Salah satu penyintas yang bertahan hingga kini adalah Tarmin (61), pria asal Kediri yang merupakan generasi pertama petani plasma mitra Asian Agri. Pada 1991, Tarmin mengikuti program PIR-Trans yang dicanangkan pemerintah. Kini, dari separuh transmigran yang bertahan, sekitar 30 persen di antaranya telah tutup usia, menyisakan tongkat estafet pada anak-anak mereka.
Stabilitas Harga dan Kesejahteraan Lintas Generasi
Kesuksesan transmigran yang bertahan seperti Tarmin membuktikan bahwa sawit adalah instrumen kesejahteraan yang ampuh. Lahan Tarmin yang semula hanya 2 hektar, kini telah berkembang menjadi 16 hektar. Sebagai petani plasma, ia menekankan pentingnya kemitraan dalam menjaga stabilitas harga. Sawit dari petani plasma dibeli sesuai ketetapan pemerintah, sementara petani swadaya sering kali harus menghadapi fluktuasi harga yang lebih rendah di pasar, dengan selisih mencapai Rp 500 per kilogram.
Sebagai contoh, pada awal Desember lalu di Riau, harga sawit plasma mencapai Rp 3.216 per kilogram, jauh di atas harga petani swadaya yang hanya Rp 2.700 per kilogram. Stabilitas ekonomi inilah yang membuat Tarmin mampu menyekolahkan dua anaknya hingga meraih gelar sarjana. Meski anak sulungnya kini berkarir di Singapura, si bungsu yang bekerja sebagai bendahara desa sudah menunjukkan ketertarikan kuat untuk meneruskan usaha sawit keluarga. Fenomena ini mempertegas bahwa dengan ekosistem yang tepat, profesi petani tetap menjadi andalan bagi masa depan generasi muda.