Deallova Hadirkan Produk Sepatu Inovatif Berbahan Kain Tenun Baduy Khas Banten

Senin, 09 Februari 2026 | 10:32:13 WIB
Deallova Hadirkan Produk Sepatu Inovatif Berbahan Kain Tenun Baduy Khas Banten

JAKARTA - Inovasi dalam industri fesyen tanah air kini semakin berani dalam mengangkat identitas kedaerahan. Salah satu langkah yang mencuri perhatian datang dari jenama lokal asal Banten, Deallova, yang mencoba mendefinisikan ulang penggunaan material tradisional dalam produk gaya hidup masa kini. Deallova menghadirkan kekhasan lokal melalui produk alas kaki yang memadukan desain modern dengan unsur tenun Baduy. Perpaduan tersebut menjadi identitas brand sekaligus upaya melestarikan nilai budaya Banten dalam produk sehari-hari.

Langkah ini bukan sekadar mengikuti tren etnik yang sedang marak, melainkan sebuah misi untuk memastikan bahwa warisan luhur masyarakat Baduy tetap relevan di tengah gempuran produk massal global. Dengan menjadikan tenun sebagai komponen utama alas kaki, Deallova berhasil menciptakan dialog baru antara tradisi yang sakral dengan fungsionalitas produk yang digunakan masyarakat setiap hari.

Karakter Kuat Tenun Baduy dalam Desain Alas Kaki

Keputusan untuk menggunakan kain tenun asli dari pegunungan Kendeng ini didasari oleh kekaguman terhadap filosofi dan estetika yang terkandung di dalamnya. Owner Deallova, Rini, mengatakan penggunaan tenun Baduy dipilih karena memiliki karakter kuat dan nilai kultural yang tinggi. Produk ini menjadi salah satu yang paling diminati, terutama oleh pengunjung dari luar daerah. ”Model dengan tenun Baduy ini justru banyak diminati, apalagi saat ada pengunjung dari berbagai provinsi,” katanya saat dialog bersama Studio Mini RRI Banten, Sabtu 7 Februari 2026.

Kekuatan karakter tenun Baduy terletak pada pola geometrisnya yang khas serta proses pembuatannya yang masih sangat tradisional. Hal inilah yang memberikan nilai tambah bagi produk Deallova di mata kolektor fesyen dan wisatawan yang mencari sesuatu yang otentik. Setiap pasang sepatu seolah membawa potongan cerita dari pedalaman Banten ke langkah kaki penggunanya.

Menyeimbangkan Estetika Tradisional dan Kenyamanan Modern

Mengolah kain tenun menjadi bagian dari sepatu bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ketelitian agar tekstur kain yang khas tidak terganggu saat proses produksi, sembari memastikan standar kenyamanan alas kaki tetap terjaga. Rini menjelaskan, pemanfaatan tenun Baduy dilakukan dengan tetap menghormati nilai dan keaslian budaya. Material dipadukan secara hati-hati agar tetap nyaman digunakan tanpa menghilangkan identitas tradisionalnya.

Proses perpaduan ini dilakukan dengan metode yang sangat selektif. Rini ingin memastikan bahwa sisi modern dari sepatu tersebut—seperti sol dan bantalan yang ergonomis—dapat bersanding harmonis dengan kain tenun. Hasilnya adalah sebuah produk hibrida yang tidak kaku, namun tetap memancarkan wibawa budaya yang kental.

Respons Pasar dan Daya Tarik Produk Berbasis Cerita

Strategi mengangkat budaya lokal ini terbukti efektif dalam memikat hati konsumen. Di tengah pasar yang jenuh dengan desain yang seragam, konsumen kini mulai mencari produk yang memiliki "jiwa" dan sejarah di baliknya. Menurutnya, produk tersebut menjadi jembatan antara budaya lokal dan kebutuhan pasar modern. Banyak konsumen tertarik karena merasa mendapatkan produk yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memiliki cerita. ”Mereka senang karena ini bukan sekadar sepatu, tapi ada nilai budayanya,” ujarnya.

Kesuksesan ini membuktikan bahwa narasi budaya merupakan aset berharga dalam strategi pemasaran produk lokal. Konsumen merasa bangga mengenakan produk yang turut mengampanyekan kekayaan tradisi Indonesia, sehingga tercipta hubungan emosional antara pembeli dan produk tersebut.

Catatan Penjualan dan Antusiasme Pengunjung

Keberhasilan konsep ini terlihat jelas dari catatan penjualan Deallova yang menunjukkan angka signifikan. Produk bermotif etnik Banten ini secara konsisten menempati jajaran produk terlaris di setiap kesempatan pameran. Rini menambahkan, produk berbasis tenun Baduy juga menjadi salah satu best seller Deallova. Tingginya minat membuat beberapa stok habis dalam waktu singkat. ”Di hari pertama saja stoknya langsung habis, dan hari berikutnya juga kembali terjual,” ucapnya.

Fenomena ini menjadi sinyal positif bagi pelaku UMKM di Banten. Bahwa dengan sentuhan kreativitas yang tepat, material tradisional yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai cenderamata statis, dapat bertransformasi menjadi produk gaya hidup yang kompetitif dan memiliki nilai jual tinggi.

Visi Masa Depan: Memperkenalkan Banten ke Tingkat Luas

Bagi Rini dan tim Deallova, pencapaian saat ini hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk membawa identitas Banten ke panggung yang lebih besar. Ia menilai antusiasme tersebut menunjukkan bahwa pasar memiliki ketertarikan besar terhadap produk yang mengangkat identitas lokal. Hal ini menjadi motivasi bagi Deallova untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya. Inovasi ke depan akan terus difokuskan pada pengembangan desain yang lebih variatif namun tetap berpegang pada prinsip keaslian material.

Rini berharap penggunaan tenun Baduy dalam produk alas kaki dapat memperkenalkan kekayaan budaya Banten ke tingkat yang lebih luas. Ia menegaskan, pengembangan brand akan terus dilakukan dengan prinsip menghargai budaya dan memberdayakan masyarakat lokal, katanya. Semangat ini diharapkan dapat memicu regenerasi pengrajin tenun di Baduy serta meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar melalui kemitraan yang berkelanjutan antara pelaku industri kreatif dan pengrajin tradisional.

Terkini