Tips Aman Dokter Berpuasa Ramadan bagi Penderita GERD dan Asam Lambung

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:11:27 WIB
Tips Aman Dokter Berpuasa Ramadan bagi Penderita GERD dan Asam Lambung

JAKARTA - Datangnya bulan suci Ramadan sering kali menyisakan tanda tanya besar bagi mereka yang berjuang dengan masalah pencernaan kronis. Perubahan drastis pada pola makan dan waktu istirahat selama berpuasa menjadi tantangan fisik sekaligus mental bagi para penyintas Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) maupun gangguan lambung lainnya. Namun, benarkah puasa adalah hambatan bagi kesehatan pencernaan, atau justru bisa menjadi solusi penyembuhan? Pandangan medis menunjukkan bahwa dengan persiapan dan kondisi yang tepat, ibadah puasa bukan hanya aman, tetapi juga berpotensi membawa dampak positif bagi lambung.

Pentingnya Kesiapan Fisik dan Pengobatan Dini

Kekhawatiran utama bagi penderita asam lambung adalah peningkatan risiko iritasi saat perut kosong dalam waktu lama. Menanggapi hal ini, pakar kesehatan memberikan lampu hijau bagi penderita gangguan lambung untuk tetap menjalankan ibadah puasa, asalkan berada dalam pengawasan dan kondisi yang stabil. Konsultan kesehatan pencernaan, Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menekankan pentingnya melakukan tindakan medis segera jika gejala masih bersifat akut sebelum memasuki bulan puasa.

"Apabila anda punya masalah maag yang akut, tentu harus diobati. Masih ada waktu untuk diobati," ungkap dr Ari melalui pesan video yang diterima detikcom dalam kurun waktu sepekan menjelang Ramadan. Pesan ini menekankan bahwa kunci keberhasilan puasa bagi penderita lambung terletak pada manajemen kesehatan yang dilakukan jauh-jauh hari. Pengobatan dini memastikan dinding lambung cukup kuat untuk menghadapi fase tanpa asupan makanan selama belasan jam.

Indikasi Aman Berpuasa bagi Penderita Maag

Lebih lanjut, dr Ari menjelaskan bahwa parameter keamanan berpuasa sangat bergantung pada kondisi aktual lambung seseorang. Jika seseorang memiliki riwayat penyakit lambung namun saat ini sedang tidak mengalami serangan atau kekambuhan (fase remisi), maka puasa sangat memungkinkan untuk dijalankan dengan normal.

"Tapi ketika tidak ada masalah, saat ini tidak kambuh maag-nya, maka tidak ada masalah untuk berpuasa. Yang penting adalah tetap sahur dan berbuka dengan baik," lanjut dr Ari. Ia menegaskan bahwa kunci utama dari puasa yang sehat bagi penderita pencernaan terletak pada kedisiplinan dalam menjalankan dua waktu makan utama tersebut. Melewatkan sahur atau berbuka secara sembarangan justru akan menjadi bumerang yang dapat memicu kembali keluhan lambung yang sudah tenang.

Efek Positif Puasa terhadap Pola Makan Teratur

Secara mengejutkan, dr Ari menyampaikan fakta menarik bahwa banyak pasien dengan masalah pencernaan justru melaporkan perbaikan kondisi selama bulan Ramadan. Hal ini terjadi karena puasa memaksa tubuh untuk mengikuti ritme makan yang sangat teratur dan terjadwal secara ketat. Di hari-hari biasa, godaan untuk mengonsumsi camilan tidak sehat atau pola makan yang berantakan sering kali menjadi pemicu utama iritasi lambung.

Selama Ramadan, lambung mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk proses regenerasi sel. Tidak adanya asupan makanan terus-menerus membuat sistem pencernaan tidak perlu bekerja ekstra keras sepanjang hari. Terhindarnya seseorang dari camilan yang terlalu asam, pedas, atau mengandung banyak minyak selama jam-jam puasa secara tidak langsung menjadi terapi detoksifikasi alami bagi sistem gastrointestinal.

Pengaruh Ketenangan Spiritual terhadap Kesehatan Lambung

Aspek lain yang sering dilupakan namun memiliki landasan medis kuat adalah hubungan antara kesehatan mental dan asam lambung. Lambung dikenal sebagai "otak kedua" manusia yang sangat sensitif terhadap stres dan kecemasan. Kegiatan religius selama Ramadan, seperti salat, tadarus, dan berdzikir, secara ilmiah dapat menurunkan kadar hormon stres yang memicu produksi asam lambung berlebih.

"Ketenangan jiwa terjadi pada teman-teman yang memang nanti akan melaksanaan ibadah puasa ramadan, dan kondisi itu merupakan hal yang positif untuk kesehatan lambung," jelas dr Ari. Ketenangan spiritual yang dirasakan selama beribadah menciptakan suasana tubuh yang lebih rileks. Kondisi rileks ini sangat kondusif bagi lambung untuk menjaga keseimbangan pH-nya, sehingga risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan (refluks) dapat diminimalisir.

Kesimpulan dan Rekomendasi Puasa yang Nyaman

Berpuasa bagi penderita GERD dan asam lambung bukanlah sesuatu yang mustahil. Dengan mengikuti saran ahli, yakni melakukan pengobatan jika kondisi sedang akut dan menjaga disiplin makan saat sahur dan berbuka, penderita gangguan lambung dapat menjalankan ibadah dengan tenang. Kombinasi antara pola makan yang terjadwal rapi serta kondisi psikologis yang stabil melalui ibadah menjadi resep mujarab bagi kesehatan pencernaan selama Ramadan 2026.

Ibadah puasa pada akhirnya bukan hanya sekadar kewajiban spiritual, tetapi juga menjadi momen refleksi bagi tubuh untuk kembali ke pola hidup yang lebih teratur. Jika dijalankan dengan penuh kesadaran dan persiapan medis yang cukup, penderita maag justru bisa merasakan manfaat kesehatan yang luar biasa pada akhir bulan suci nanti.

Terkini