Otomotif

Ekspor Kendaraan Jadi Penopang Industri Otomotif Nasional di Tahun 2026

Ekspor Kendaraan Jadi Penopang Industri Otomotif Nasional di Tahun 2026
Ekspor Kendaraan Jadi Penopang Industri Otomotif Nasional di Tahun 2026

JAKARTA - Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi dinamika pasar yang kontradiktif. Di tengah kelesuan permintaan domestik yang membayangi sepanjang tahun 2025, sektor ini justru menemukan secercah harapan melalui performa luar biasa di pasar internasional. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan ekspor kini menjadi "penyelamat" sekaligus fondasi strategis bagi ketahanan manufaktur kendaraan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Menperin saat secara resmi membuka ajang pameran otomotif bergengsi, Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis. Menurutnya, ketika pasar lokal mengalami tekanan hebat, kemampuan produk dalam negeri untuk menembus pasar global menjadi indikator krusial bagi keberlangsungan industri.

“Di tengah melemahnya pasar domestik, kinerja ekspor justru tampil sebagai penopang utama industri otomotif,” kata Agus di hadapan para pemangku kepentingan industri yang hadir.

Daya Saing Global di Tengah Kontraksi Pasar Domestik

Data menunjukkan adanya penurunan signifikan pada rapor penjualan di dalam negeri. Berdasarkan catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), volume penjualan retail mobil nasional pada tahun 2025 berada di kisaran 833 ribu unit. Angka ini merosot sekitar 6,3 persen jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2024 yang sanggup mengumpulkan 889 ribu unit. Secara lebih spesifik, penjualan wholesales tercatat turun 7,2 persen.

Namun, di balik awan mendung pasar domestik tersebut, kinerja ekspor kendaraan utuh (Completely Built Up/CBU) produksi lokal justru mencatat pertumbuhan solid. Volume ekspor meningkat 9,7 persen, dari 472 ribu unit pada 2024 menjadi 518 ribu unit pada penutupan tahun 2025.

“Kinerja ini menunjukkan bahwa produk-produk otomotif kita memiliki daya saing, memiliki nilai kompetitif yang tinggi, sehingga bisa diterima di pasar global,” ujar Menperin.

Keberhasilan ini, menurut Agus, tidak hanya menunjukkan kualitas produk yang mumpuni, tetapi juga merupakan buah dari strategi pemasaran yang tepat dan keberhasilan diplomasi industri yang terus didorong pemerintah. Perjuangan dalam penambahan kuota ekspor serta perluasan negara tujuan baru menjadi kunci di balik angka pertumbuhan yang positif tersebut.

IIMS 2026 sebagai Katalisator Pemulihan Ekonomi

Pemerintah memandang orientasi global bukan sekadar solusi jangka pendek untuk menutupi defisit penjualan lokal, melainkan strategi jangka panjang menuju industri yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, pameran seperti IIMS 2026 memegang peranan vital sebagai ruang konsolidasi antara produsen, konsumen, dan pemerintah.

Ajang IIMS sendiri telah menunjukkan konsistensi pertumbuhan yang impresif selama tiga tahun terakhir, dengan rata-rata pertumbuhan transaksi mencapai 23 persen per tahun. Tren positif ini diharapkan dapat menular pada ekosistem industri otomotif secara keseluruhan, sekaligus mempercepat adopsi teknologi hijau di tanah air.

Agus berharap, penyelenggaraan IIMS 2026 dapat menjadi salah satu katalis percepatan pemulihan industri, sekaligus ruang strategis kolaborasi antara produsen, konsumen, dan pemangku kepentingan untuk memperluas adopsi kendaraan ramah lingkungan dan memperkuat posisi Indonesia di pasar otomotif global.

“Selain memperkuat pemulihan industri, IIMS diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperluas adopsi kendaraan berbasis ramah lingkungan,” tambahnya.

Target Ambisius dan Fokus Kendaraan Ramah Lingkungan

Pameran IIMS 2026 yang berlangsung mulai 5 hingga 15 Februari ini hadir dengan skala yang lebih masif dan relevan terhadap perkembangan zaman. Dengan peserta yang semakin beragam, pameran tahun ini membidik target transaksi yang cukup ambisius, yakni sebesar Rp8 triliun dengan proyeksi kunjungan penonton mencapai 570 ribu orang.

Besarnya skala pameran ini mencerminkan optimisme pemerintah bahwa industri otomotif nasional dapat segera bangkit dari kontraksi. Fokus pada kendaraan ramah lingkungan juga menjadi agenda utama, seiring dengan komitmen Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Kinerja positif ekspor yang kontras dengan pelemahan domestik ini membuktikan bahwa produk otomotif buatan Indonesia telah memenuhi standar internasional. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat posisi ini melalui berbagai kebijakan yang mendukung peningkatan kapasitas produksi dan perluasan akses pasar mancanegara, sehingga industri otomotif tetap kokoh meski menghadapi tantangan ekonomi di dalam negeri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index